ANDA PENGUNJUNG KE Hit Counter Gunakan SMS gratis atau memo untuk berhubungan dengan kami atau CONTACT kami

KEGIATAN dan PRODUCT

KOPI SAMBUNG KECAMBAH / KEPALAN

product

Ingin kami sam...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

PROYEK PEMBIBITAN 25RB KOPI ARABIKA

product

Proyek ini...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

PENELITIAN OLEH BPP KEC. PUPUAN

product

Oleh Bpk. Mujiasa...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

SERTIFIKASI DISBUN PROVINSI BALI

product

Bpk Lanang pada...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

MENYAMBUNG KOPI SAMBUNG KEPALAN

product

Bagaimana proses...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

PROYEK PEMBIBITAN POHON KEJIMAS

product

Bagaimana tekniknya...

Lihat detail | FOTO/VIDEO

PROSES MENYAMBUNG KOPI KECAMBAH / KEPALAN

BUDIDAYA SAMBUNG KECAMBAH DAN SEJARAHNYA.

Kisah latar belakang sejarah bibit unggul dengan sistem lewat sambung kecambah atau mikul kapak jenis kopi robusta yang diperkuat dengan akar jenis kopi Exzelsa dikembangkan oleh kelompok Tani Wana Lestari Desa Pekraman Munduk Temu Kec. Pupuan Kab. Tabanan.

Kisah awal mulai dari tahun 1979 pada saat adanya pengembangan sistem dan manajemen usaha tani yang diselenggarakan di desa Munduk Temu tepatnya di SD N 3 Banjar Adat Pakraman Kebonjero. Selama 7 hari berturut-turut beberapa orang petani khususnya yang ada di desa Munduk Temu mendapat pembinaan dan pembelajaran dari dinas perkebunan Kec. Pupuan Kab. Tabanan yang dipandu oleh Bapak Ir. Karang dan bapak Made Raka beserta jajarannya yang terkait.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tertuang bertajuk :

APGREADING PETANI KOPI
Dari BPP. UPPK. UPTD DISBUN dan pihak terkait dari unsur pertanian Kec. Pupuan tahap II tahun 1979 yang diikuti oleh petani ± 40 orang se-desa Munduk Temu. Dari sanalah awal mulainya perubahan sistem bercocok tanam kopi Robusta khususnya yang ada di Desa Munduk Temu. Dulunya dikenal kopi Robusta jenis lokal peninggalan dari jaman pemerintah Belanda dalam kurun waktu 100 tahun silam berlalu, baru mengalami perubahan sistem tepatnya tahun 1979. bahwa kopi Robusta cocok ditanam dan dikembangkan dengan ketinggian 400-700meter dari permukaan laut. Maka sangat ideal desa Munduk Temu dengan ketinggian 550 meter PAL.

Selanjutnya mengawali pembelajaran dan pelatihan antara lain :
  1. Budidaya bercocok tanam kopi.
  2. Budidaya bercocok tanam cengkeh
  3. Budidaya bercocok tanam vanili
  4. Budidaya bercocok tanam kakao

Dari semua materi pembelajaran prioritas utamanya adalah bercocok tanam kopi jenis Robusta. Dengan adanya perubahan sistem yang diterapkan lewat pelatihan dari dinas perkebunan bertujuan meningkatkan pendapatan petani dan Sumber Daya Manusia yang ada demi kesejahtraan hidup petani di desa dengan melihat potensi yang ada yang perlu dikembangkan secara intensif. Maka dari itu diberikan pelatihan secara cuma-cuma yang diprakarsai oleh pemerintah daerah sendiri untuk memberi pemahaman mulai dari mengenal sistem penerapan Panca Usaha tani dan manajemennya. Mulai dari :
  1. Kopi lokal menjadi sistem toping.
  2. Dari sistem toping mengenal sistem sambung.
  3. Dari sistem sambung batang mengenal sistem sambung rancak atau TAK.n
  4. Setelah TAK.n mengenal sistem stek res.
  5. Dari sistem 1-4 yang diberikan ada sistem yang terakhir yaitu  sistem sambungan kepalan atau sambung akar.
Namun sayangnya sistem yang terakhir pada saat itu belum mendapat pelatihan secara riil oleh beliau yang membina, hanya mendapat sedikit gambaran dari semua teorinya. Dengan alasan belum saatnya katanya pada saat itu tapi beliau Bapak Ir, Karang berpesan suatu saat nanti jika terjadi kendala dilapangan dalam jangka panjang baru kita lakukan teori yang terakhir. Alasan beliau petani baru pembelajaran awal itu masih jauh kita baru melangkah dari awal yang penting kita mau belajar dan rajin bekerja itu harapan beliau. Demikianlah ucapan beliau dalam perbincangan disela-sela istirahat siang sambil bergurau diluar jam belajar. Perbincangan diikuti oleh beberapa orang petani, termasuk saya sebagai penulis ikut pada saat itu. Sedangkan teman yang lain kumpul berbincang-bincang dengan pembina ditempat yang berbeda. Dari situlah awal mulanya saya sebagai penulis hanya berdasarkan ingatan diluar jam belajar tahun 1979 bersama beliau yang saya kenang selalu selaku pembina terdahulu. Saya menulis buku ini tahun 2008 hampir 30 tahun berlalu petani kopi berjuang menerapkan ilmunya namun apa yang terjadi?
v     Betulkah petani mengikuti sistem apa yang diberikan oleh bapak-bapak kita pendahulu?
v     Tidakkah saudara/saudari melanggar atau mengabaikan teknik dan mekanisme atau petunjuk yang diberikan kepada kita?
v     Bagaimana hasil perjuangan anda selama ini sampai terjadi pembauran zat kimia yang merajalela penuh racun di bumi ini?
Nah dari semua pertanyaan penulis hanya pembaca dan pelaku yang bisa menjawab sesuai pengalaman yang anda dapatkan di kebun sendiri. Untuk itu mari kita renungkan kembali bersama setelah bersusah payah berjuang untuk menyambung hidup sebagai petani. Menurut pendapat saya sebagai penulis melihat dampak yang kurang sehat berdasarkan pengamatan dilapangan setelah 30 tahun berlalu banyak terlihat ketimpangan dan perubahan yang sangat menjolok akhir-akhir ini antara lain :
struktur tanah kurang sehat, kesuburan tanah menurun drastis, cuaca sangat extrim,daya tahan tanaman berkurang, tumbuhnya beraneka ragam penyakit pada tanaman, jarak tanam terlihat amburadul dsbgnya.
Apa yang menyebabkan semua itu?
Siapa yang harus menjawab?
Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah pemerintah atau kita? Yang jelas menurut saya adalah kita dari semua pihak baik itu pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan.

Untuk mengantisipasi hal semacam itu termasuk kerusakan ekosistem pertanian yang kurang ramah lingkunagan mari kita coba tingkatkan SDMnya sesuai kemampuan dan perkembangan yang ada secara bersama-sama baik itu diperkotaan atau di desa yang mempunyai potensi dibidang pertanian dan kehutanan.

Apa yang telah saya uraikan sebagai penulis yang terlibat langsung sebagai petani kecil hidup di desa dengan melihat kenyataan di lapangan dan pengalaman pahit yang sudah dirasakan tumbuhlah sebuah ide baru mulai dari mengenal alam dan lingkungan dan bercocok tanam dengan sistem pembibitan yang lebih bisa diandalkan tanpa ketergantungan pada pupuk dan zat-zat kimia yang berlebihan. Tujuannya adalah mengembalikan struktur tanah yang berwawasan ramah lingkungan untuk mengurangi kerusakan alam itu sendiri.

Begitulah sebagai akhir tujuan hingga terciptanya kreativitas untuk membuat pembibitan lewat sambung kecambah dengan akar Exzelsa.

Demikianlah saya sebagai penulis sangat mengharapkan kepedulian dari semua pihak yang terkait untuk saling bekerjasama membangun dan mewujudkan cita-cita yang LESTARI.

BERIKUT BEBERAPA FOTO DALAM PROSES MENYAMBUNG :


No Response to "PROSES MENYAMBUNG KOPI KECAMBAH / KEPALAN"